dunia pendidikan zaman sekarang

April 11, 2010 at 7:31 am (Uncategorized)

Pemikiran Ibnu Maskawaih tentang PI :
Pendidikan tidak bisa dipisahkan dengan pendidikan akhlak dan manusia. Tujuan pendidikan akhlak yang dirumuskan Ibnu Maskawaih adalah terwujudnya sikap batin yang mampu mendorong secara spontan untuk melahirkan perbuatan yang bernilai baik. Tujuan pendidikan yang ingin dicapai Ibnu Maskawaih bersifat menyeluruh, yakni mencakup kebahagiaan hidup manusia dalam arti yang seluas-luasnya.

Unik bin Aneh Dunia Pendidikan Zaman Sekarang

Judul tulisan ini layak menggambarkan kondisi dunia pendidikan saat ini, masih segar dalam ingatan kita beberapa waktu yang lalu para siswa khususnya yang di tingkat SD dan SMP telah melaksanakan Ujian berstandar Nasional. Sebuah ujian yang sangat crusial buat mereka yang akan menentukan “takdir” kelulusan plus kelanjutan pendidikannya, tapi sayang dibalik pelaksanaan ujian nasional itu menyisakan suatu keprihatinan. Betapa tidak Dunia Pendidikan sebagai “Kawah Candradimuka” yang semestinya membentuk dan melahirkan insan-insan yang berilmu, berpengetahuan, berakhlak, bermoral, inovatif, kreatif dan berkualitas, malah cenderung mempertontonkan bentuk ketidakjujuran dalam upaya meluluskan para siswanya.
Pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional berusaha memajukan daya saing ataupun mutu pendidikan masyarakatnya. Hal ini terlihat dari berbagai sarana dan prasaran pendidikan terus mengalami perbaikan dari tahun ke tahun, kurikulum yang terus direvisi, system dan kebijakan pendidikan yang semakin memanjakan para pelaku pendidikan. Intinya pemerintah telah habis-habisan mengeluarkan dana yang tidak sedikit berupaya keras memperbaiki taraf pendidikan dengan segenap instrumennya, dan wajarlah kalau kemudian pemerintah dalam hal ini, Departemen Pendidikan Nasional menuntut dan mematok standar kelulusan di setiap jenjang pendidikan.
Di sinilah dilemma itu muncul, sementara kondisi pendidikan real terbilang stagnant, tapi pemerintah menghendaki kualitas pendidikan tiap tahun semakin meningkat. Hal ini dibuktikan dengan penetapan standar kelulusan yang secara kwantitas terus merangkak naik setiap tahunnya. Upaya dan tindakan pemerintah ini agar menciptakan pendidikan yang memiliki daya saing dengan bangsa-bangsa lain dan juga mempersiapan generasi yang dapat diandalkan dalam menghadapi era globalisasi. Dilain pihak sekolah, siswa dan masyarakat dihadapkan pada situasi yang complicated.
Setiap sekolah pasti tidak ingin ada siswanya yang tidak lulus ujian nasional, rentang waktu yang cukup lama ditempuh oleh siswa dihanyutkan hanya dengan nilai beberapa mata pelajaran saja. Selain itu sekolah juga tidak mau dikecam dan disalahkan oleh para siswa dan orang tua siswa, jika banyak yang gagal dalam ujian nasional. Para guru pun tidak ingin melihat ada siswanya yang gagal dalam menempuh ujian nasional, bahkan seorang GTT atau guru honorer yang Cuma dapat kesra Rp 350.000,00 pun menginginkan para siswanya tersenyum saat membuka surat hasil ujian nasionalnya. Sebagaian besar para guru tahu dan paham betul seperti apa kemampuan anak didiknya, tapi tak tega rasanya kalau anak didiknya itu putus asa dan depresi karena gagal ujian.
Dipungkiri atau tidak, disukai atau tidak disukai, konflik bathin menghinggapi “team sukses” ujian nasional di setiap sekolah. Ujung-ujungnya yaaaa…tahu sendirilah….dan sudah bukan rahasia lagi manufer-manufer yang dilancarkan setiap sekolah agar siwanya bisa lulus. Namun yang paling disayangkan adalah manufernya terkadang terlampau berlebihan, tidak memperkirakan kemampuan asli siswanya. Bukannya meremehkan pihak manapun, seorang siswa yang jarang belajar, malas, dan intelgensia yang minim, dapat mencapai nilai Ujian Nasional yang terbilang tinggi !! sungguh mencengangkan, celakanya lagi siswa tersebut tidak tahu diri alias tidak mengukur kemampuan aslinya. Lulus ujian dengan nilai yang tinggi, dia mendaftar pada sekolah-sekolah favorite. Ini akan menjadi boomerang bagi sekolah-sekolah favorite yang kebetulan menampung siswa seperti ini.
Di sisi lain siswa yang kebetulan hanya mengandalkan kemampuan asli dirinya hanya maraup nilai yang standar atau sedikit diatas standar, dan ini memyebabkan dirinya terlempar ke “sekolah-sekolah negeri pinggiran” atau bahkan sekolah swasta. Sekedar pelipur lara, bagi siswa yang kebetulan menanggung “takdir” ini janganlah putus asa dan patah semangat untuk belajar. Sekolah favorite atau bukan, sekolah negeri ataupun swasta sama saja karena suksesnya pendidikan tidak ditentukan oleh hal tersebut. Yakinlah bahwa Semangat dan belajar keras adalah kunci sukses pendidikan seseorang untuk bekal di kehidupan kelak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: